Wednesday, June 27, 2012

Biografi W.S Rendra si Burung Merak

0 comments
Nama   Lengkap -> Willibrordus Surendra Broto
Tempat Tanggal Lahir -> Solo 07 November 1935
Agama -> Islam
Wafat  -> 06 agustus 2009
Nama Istri -> Sunarti Suwandi, Bendoro Raden Ayu Sitoresmi Prabuningrat, dan Ken Zuraida
Nama Anak -> Teddy Satya Nugraha, Andreas Wahyu Wahyana, Daniel Seta, Samuel Musa, Klara Sinta, Yonas Salya, Sarah Drupadi, Naomi Srikandi, Rachel Saraswati, Isaias Sadewa dan Maryam Supraba.

Riwayat Pendidikan
  • TK (1942) - SMA (1952), di sekolah Katolik, St. Yosef kota Solo.
  • Fakultas Sastra, Universitas Gajah Mada namun tidak menyelasaikan kuliahnya.
  • Beasiswa American Academy of Dramatical Art (AADA), untuk belajar dalam bidang drama dan tari di Amerika. Di sana, Ia juga mengikuti seminar tentang kesusastraan di Universitas Harvard.

Penghargaan
  • Hadiah Pertama Sayembara Penulisan Drama dari Bagian Kesenian Departemen Pendidikan dan kebudayaan , Yogyakarta (1954)
  •  Hadiah Sastra Nasional BMKN (1956)
  •  Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia (1970)
  •  Hadiah Akademi Jakarta (1975)
  • Hadiah Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1976)
  • Penghargaan Adam Malik (1989)
  • The S.E.A. Write Award (1996)
  • dan Penghargaan Achmad Bakri (2006). 

WS Rendra. Nama panjangnya Willibrordus Surendra Broto Rendra ialah penyair tersohor yang kerap dijuluki sebagai "Burung Merak". Sungguh beruntung Solo memiliki anak super seperti nya. Masa kecil hingga remaja Rendra habiskan di kota kelahirannya itu. Bengkel Teater di Yogyakarta pada tahun 1967 dan juga Bengkel Teater Rendra di Depok wujud kecintaan nya mengarungi dunia sastra. Semenjak masa kuliah Rendra sudah aktif menulis cerpen dan esai di berbagai majalah. Ia anak dari pasangan R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah, yang terlahir di Solo 07 November 1935. Rendra berayahkan seorang guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa pada sekolah Katolik, Solo, di samping juga sebagai dramawan tradisional; sedangkan ibunya berprofesi sebagai penari serimpi di keraton Surakarta.

Rendra memulai debut pendidikannya dari TK ( 1942 ) hingga menyelesaikan sekolah menengah atasnya, SMA ( 1952 ), di sekolah Katolik, St. Yosef di kota Solo. Setamat SMA Rendra pergi mencari peruntungan ke Jakarta dengan maksud bersekolah di Akademi Luar Negeri. Sayangnya akademi tersebut telah ditutup. Lalu ia pergi ke Yogyakarta dan masuk ke Fakultas Sastra, Universitas Gajah Mada. Walaupun tidak menyelesaikan kuliahnya , tidak berarti ia berhenti untuk belajar. Pada tahun 1954 ia memperdalam pengetahuannya dalam bidang drama dan tari di Amerika atas beasiswa dari American Academy of Dramatical Art (AADA). Ia juga mengikuti seminar tentang kesusastraan di Universitas Harvard dari undangan pemerintah setempat.

Bakat sastra nya sudah mulai terlihat ketika ia duduk di bangku SMP. Saat itu ia sudah mulai menunjukkan kemampuannya dengan menulis puisi, cerita pendek dan drama untuk berbagai kegiatan sekolahnya. Hebat nya lagi Ia juga piawai di atas panggung. Mementaskan beberapa dramanya, dan terutama tampil sebagai pembaca puisi yang benar - benar berbakat. Tahun 1952 ialah debut awal mempublikasikan puisinya pada media massa melalui majalah siasat. Setelah itu, puisi-puisinya pun lancar mengalir menghiasi berbagai majalah, seperti puisi Kisah, konfrontasi, Seni, Basis, , dan Siasat Baru. Hal itu terus berlanjut dalam majalah-majalah pada dekade selanjutnya, terutama majalah tahun 60-an dan tahun 70-an. “Kaki Palsu” adalah drama pertamanya, dipentaskan ketika ia di SMP, dan “Orang-Orang di Tikungan Jalan” adalah drama pertamanya yang mendapat penghargaan dan hadiah pertama dari Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta. Pada saat itu ia sudah duduk di SMA. Penghargaan itu membuatnya sangat bergairah untuk berkarya. Prof. A. Teeuw, di dalam bukunya Sastra Indonesia Modern II ( 1989 ), berpendapat bahwa dalam sejarah kesusastraan Indonesia modern Rendra tidak termasuk ke dalam salah satu angkatan atau kelompok seperti Angkatan 45, Angkatan 60-an, atau Angkatan 70-an. Dari karya-karyanya terlihat bahwa ia mempunyai kepribadian dan kebebasan sendiri.

Karya-karya Rendra tidak hanya terkenal di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Banyak karyanya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, di antaranya bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Jepang dan India. Ia juga aktif mengikuti festival-festival di luar negeri, di antaranya
  1. The Rotterdam International Poetry Festival (1971 dan 1979),
  2. The Valmiki International Poetry Festival, New Delhi (1985),
  3. Berliner Horizonte Festival, Berlin (1985),
  4. The First New York Festival Of the Arts (1988),
  5. Spoleto Festival, Melbourne, Vagarth World Poetry Festival, Bhopal (1989),
  6. World Poetry Festival, Kuala Lumpur (1992), 
  7. dan Tokyo Festival (1995). 
Baru pada usia 24 tahun, ia menemukan cinta pertama pada diri Sunarti Suwandi. Dari wanita yang dinikahinya pada 31 Maret 1959 itu, Rendra mendapat lima anak: Teddy Satya Nugraha, Andreas Wahyu Wahyana, Daniel Seta, Samuel Musa, dan Klara Sinta. Satu di antara muridnya adalah Bendoro Raden Ayu Sitoresmi Prabuningrat, putri darah biru Keraton Yogyakarta, yang bersedia lebur dalam kehidupan spontan dan urakan di Bengkel Teater. Tugas Jeng Sito, begitu panggilan Rendra kepadanya, antara lain menyuapi dan memandikan keempat anak Rendra-Sunarti.

Ujung-ujungnya, ditemani Sunarti, Rendra melamar Sito untuk menjadi istri kedua, dan Sito menerimanya. Dia dinamis, aktif, dan punya kesehatan yang terjaga, tutur Sito tentang Rendra, kepada Kastoyo Ramelan dari Gatra. Satu-satunya kendala datang dari ayah Sito yang tidak mengizinkan putrinya, yang beragama Islam, dinikahi seorang pemuda Katolik. Tapi hal itu bukan halangan besar bagi Rendra. Ia yang pernah menulis litani dan mazmur, serta memerankan Yesus Kristus dalam lakon drama penyaliban Cinta dalam Luka, memilih untuk mengucapkan dua kalimat syahadat pada hari perkawinannya dengan Sito, 12 Agustus 1970, dengan saksi Taufiq Ismail dan Ajip Rosidi.

Peristiwa itu tak pelak lagi, mengundang berbagai komentar sinis seperti Rendra masuk Islam hanya untuk poligami. Terhadap tudingan tersebut, Rendra memberi alasan bahwa ketertarikannya pada Islam sesungguhnya sudah berlangsung lama. Terutama sejak persiapan pementasan Kasidah Barzanji, beberapa bulan sebelum pernikahannya dengan Sito. Tapi alasan yang lebih prinsipil bagi Rendra, karena Islam bisa menjawab persoalan pokok yang terus menghantuinya selama ini: kemerdekaan individual sepenuhnya. Saya bisa langsung beribadah kepada Allah tanpa memerlukan pertolongan orang lain. Sehingga saya merasa hak individu saya dihargai, katanya sambil mengutip ayat Quran, yang menyatakan bahwa Allah lebih dekat dari urat leher seseorang. Toh kehidupannya dalam satu atap dengan dua istri menyebabkan Rendra dituding sebagai haus publisitas dan gemar popularitas. Tapi ia menanggapinya dengan ringan saja. Seperti saat ia menjamu seorang rekannya dari Australia di Kebun Binatang Gembira Loka, Yogyakarta. Ketika melihat seekor burung merak berjalan bersama dua betinanya, Rendra berseru sambil tertawa terbahak-bahak, Itu Rendra! Itu Rendra!. Sejak itu, julukan Burung Merak melekat padanya hingga kini. Dari Sitoresmi, ia mendapatkan empat anak: Yonas Salya, Sarah Drupadi, Naomi Srikandi, dan Rachel Saraswati. Sang Burung Merak kembali mengibaskan keindahan sayapnya dengan mempersunting Ken Zuraida, istri ketiga yang memberinya dua anak: Isaias Sadewa dan Maryam Supraba. Tapi pernikahan itu harus dibayar mahal karena tak lama sesudah kelahiran Maryam, Rendra menceraikan Sitoresmi pada 1979, dan Sunarti tak lama kemudian.

Hidupnya kemudian berlanjut hingga ia menghembuskan napas terakhir pada tanggal 06 agustus 2009 jam 22.10. Wafatnya rendra pada umur 75 tahun di rumah sakit mitra keluarga Depok di akibatkan penyakit jantung koroner yang di deritanya. Burung Merak pun terbang sudah ke kayangan.
-PUBLICinspire- 





 




0 comments :

Post a Comment

Satu komentar anda akan di baca oleh banyak orang,dan dua komentar anda akan lebih banyak di baca pula. silahkan berkomentar