A. PENGERTIAN POLA PENGEMBANGAN PARAGRAF
Pola pengembangan paragraf (penalaran) adalah pemikiran
untuk memperoleh kesimpulan atau pendapat yang logis berdasarkan data yang
relevan. Dengan kata lain penalaran adalah proses penafsiran data sebagai dasar
untuk menarik suatu kesimpulan.
Berdasarkan prosesnya, penalaran terdiri atas induksi dan
deduksi. Yang termasuk penalaran induksi adalah generalisasi, analogi, dan
sebab akibat, sedangkan yang termasuk penalaran deduksi adalah silogisme dan
entimem.
B. POLA PARAGRAF INDUKTIF
Penalaran induksi adalah suatu proses berfikir yang bertolak
dari satu atau sejumlah fenomena individual untuk menurunkan suatu kesimpulan
(inferensi). Proses penalaran ini mulai bergerak dari penelitian dan evaluasi
fenomena - fenomena yang ada.
1.
Generalisasi
Generalisasi
adalah suatu proses penalaran yang bertolak dari sejumlah fenomena individual
untuk menurunkan suatu inferensi yang bersifat umum yang mencakup fenomena
tadi. Pada generalisasi, peristiwa yang dikemukakan harus memadai agar dapat
ditarik kesimpulan yang terpercaya kebenarannya.
Contoh:
Saya melihat orang
oran gasyik membaca koran di halte bus. Kegiatan serupa juga saya jumpai di
peron stasiun kereta api. Saat saya jalan – jalan di taman hal yang sama juga
saya lihat orang duduk bersantai sambil membaca koran. Bahkan, ketika saya
keluar ruang dan samapai di trotoar, saya melihat berderet anak sekolah, kaula
muda, dan orang dewasa semua sedang membaca. Jadi, banyak orang yang
memanfaatkan waktu untuk mebaca.
2.
Analogi
Dalam analogi, dua macam hal
diperbandingkan dengan hanya memperhatikan persamaannya, tanpa memperhatikan
perbedaannya. Jadi kesimpulan yang didapat didasarkan pada persamaan diantara
dua hal yang berbeda.
Seorang bayi
dilahirkan dalam keadaan suci seperti kertas putih. bayi akan dibentuk pribadinya
sesuai dengan didikan yangg diterimanya seperti kertas dapat diiisi dengan
berbagai hal sesuai dengan keinginan pemiliknya. Bila bayi di didik dengan baik
maka akan seperti kertas yang terisi dengan hal-hal yang bermanfaat bagi
siapapun yang membacanya. Jadi, membentuk kepribadiaan baik seorang anak ibarat
menulisi kertas putih dengan hal-hal yang bermanfaat.
3.
Sebab akibat
bertolak dari peristiwa yang
dianggap sebagai sebab yang diketahui kemudian bergerak menuju satu kesimpulab
sebagai akibat yang terdekat.
(1) sepuluh tahun yang
lalu hutan bakau dibabat habis-habisan.(2)lahan bekas hutan bakau itu disulap
menjadi tambak-tambak udang windu.(3)memang, pada waktu itu pengusaha udang itu
memperoleh keuntungan besar karena harganya sangat mahal diluar negeri.(4)akan
tetapi, setelah barang dagangan itu tidak laku dipasaran internasional, para
pengusaha kembali ke kota, meninggalkan kerusakan lingkungan.(5)laut tercemar
karena hutan bakau yang menyaring limbah yang masuk kelaut tidak ada lagi.(6)sekarang
, puluhan ribu nelayan sulit meghidupi keluarganya karena tak ada ikan yang
dapat ditangkap ditepi pantai.
C.
POLA
PARAGRAF DEDUKTIF
proses
penalaran deduksi berusaha menarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang
khusus berdasarkan fakta-fakta yang bersifat umum
1.
Silogisme
PREMIS UMUM A=”
Setiap
pemimpin yang baik”B=”selalu
memerhatikan kesejahteraan anak buahnya.”
PREMIS KHUSUS C=”Rahadian”A=“pemimpin
yang baik.”
SIMPULAN C=”Rahadian” B=“selalu
memerhatikan kesejahteraan anak buahnya.”
Rumusnya: S (C+B) karena PK (C+A)
maka, Entimem dari silogisme di atas adalah:
C= “Rahadia”
B= “selalu memerhatikan
kesejahteraan anak buahnya karena” C=
ia A=“pemimpin yang
baik”
D. UNSUR – UNSUR PUISI
1.
TEMA PUISI
Tema adalah sesuatu yang menjiwai
puisi tersebut atau suatu pokok yang ingin disampaikan oleh penyair. Perhatikan
sepenggal puisi karya Armyn Pane berikut:
Kau petik sekarang kembang
Bunga layu setengah jalan
Setelah membaca puisi tersebut dengan baik dapat kita ambil
kesimpulan bahwa temanya adalah sesuatu yang tak sampai (kasih tak sampai atau
cinta bertepuk sebelah tangan).
2.
AMANAT
Amanat adalah pesan yang ingin
disampaikan penyair kepada pembacanya. Perhatikan sepenggal puisi karya
Waluyati berikut.
Tersebar engkau, kamu sengsara
Duduk meratap di seluruh kota
Dan suara tangisku membumbung, memilukan hati
Berdasarkan puisi tersebut kita dapat menangkap pesan
penyair bahwa sebaiknya kita mengasihi kaum dhuafa (orang – orang miskin).
3.
DIKSI
Diksi adalah pilihan kata yang
diusahakan oleh penyair secermat dan seteliti mungkin. Perhatikan penggalan
puisi karya Chairil Anwar berikut.
Aku masih menyebut
nama-Mu
Mengingat Kau penuh seluruh
Pilihan kata mengingat Kau penuh seluruh merupakan diksi
yang sangat tepat untuk menggambarkan kesempurnaan Tuhan.
4.
PENCITRAAN
Pencitraan merupakan pilihan kata
yang digunakan oleh penyait untuk dapat menggugah daya imajinasi kita sehingga
kita melihat, mendengarkan, merasakan secara fantasi (imaji). Perhatikan
sepenggal puisi karya Amir Hamzah berikut.
Berdiri aku di senja
senyap
Camar melayang menepis
buih
Melayah bakau mengurai
puncak
Menjulang datang ubur
berkembang
Angin pulang menyejuk bumi
Menepuk teluk mengepas emas
Lari ke gunung memuncak sunyi
Berayun-ayun di atas alas
Imajinasi kita sungguh tergugah oleh puisi tersebut. Kita
seakan – akan bisa menyaksikan sendiri bagaimana hembusan angin menerpa tubuh
kita dan suasana laut pada waktu senja.
5.
RIMA/BUNYI
Rima adalah persamaan bunyi yang
menyebabkan puisi tersebut indah ketika dibaca
6. GAYA BAHASA
Gaya bahasa adalah cara yang
digunakan penyair untuk membangkitkan dan menciptakan imajinasi pembaca dengan
menggunakan majas
1. Majas
perumpamaan/simile. kedua orang itu seperti pinang dibelah dua
2.
Majas metafora. pemuda adalah harapan bangsa
3.
Majas personafikasi. ombak menerjang batu karang dengan kerasnya
4.
Majas alegori. mereka mengarungi lautan
kehidupan dengan bahtera rumah
5.
Majas Pleonasme. barisan itu melangkah maju ke
depan
6.
Majas hiperbola. suaranya menggelegar membelah
angkasa
7.
Majas Tautologi. kehidupannya amat sangat miskin
8.
Majas perifaris. sebelum matahari terbit dia
sudah berangkat ke kantor
9.
Majas litotes. apakah yang kau harapkan dari
aku yang hina ini
10.
Majas paradoks. dia merasa kesepian di tengah
kota yang ramai ini
11.
Majas klimaks. jangankan sepuluh ribu, seratus
ribu, sejuta pun akan kuberikan padamu untuk biaya sekolahmu
12.
Majas antiklimaks. jangankan sepuluh ribu, seratus
ribu, seribu pun aku tak punya
13.
Majas metonimia. kami sekeluarga mudik ke
kampung halaman dengan naik kijang
14.
Majas sinekdoke
-
Pars pro toto. Ibu membeli seekor ayam untuk lauk pauk
-
Totem pro parte. Indonesia gagal meraih piala sudirman
15.
Majas alusio. peristiwa tanjung priok itu membuat trauma
masyarakat
16.
Majas Eufimisme. saya meminta izin ke kamar kecil
sebentar, Bu
17.
Majas Paralelisme
-
Anafora. Sunyi itu duka Sunyi itu kudus Sunyi itu
lupa
-
Epifora. beta pattirajawane Kikisan laut Berdarah
laut
18.
Majas repitisi. Bukan, bukan aku yang
menyembunyikan bukunya
19.
Majas tropen. Hari ini ayah saya terbang dari Surabaya
20. Majas
kontrakdisio interminis. Seluruh siswa
sudah mengerjakan tugasnya kecuali si Fulan
PEREMPUAN
PEREMPUAN PERKASA
Perempuan- perempuan
yang membawa bakul di pagi buta
Ke stasiun mereka
datang dari bukit – bukit
Sebelum peluit kereta pagi terjaga (1)
Sebelum haru bermula
dalam pesta kerja (2)
Perempuan- perempuan
membawa bakul dalam kereta
Di atas roda – roda baja (3) mereka berkendara
Mereka berlomba dengan
surya menuju gerbang kita
Mereka hidup di
pasar-pasar kota
Perempuan- perempuan
yang membawa bakul di pagi buta
Mereka itulah ibu – ibu yang perkasa (4)
Akar – akar (5) yang
melata dari tanah perbukitan turun ke kota
Mereka cinta kasih
yang bergerak menghidupi desa demi desa
Dari puisi di atas diketahui
a. Tema
puisi Kegigihan wanita desa dalam mencari nafkah.
b. Pencitraan
puisi Pengungkapan dalam puisi yang acuannya bersifat indrawi, seperti perasa,
penglihatan, penciuman, pendengaran, dan gerakan.
• Tiap baris 9 – 12 suku kata
Sekalian bintang
sudahlah pasti
Bulannya juga memutus
hati
Boleh lama pungguk
menanti
Habislah bulan tahun
berganti
• Tiap baris 9 – 12 suku kata
• Baris 1&2 sampiran, baris
3&4 isi
Air dalam bertambah
dalam
Hujan di hulu belum
lagi teduh
Hati dendam bertambah
dendam
Dendam dahulu belum
lagi sembuh
Syair yang berciri - ciri :
• Tiap baris 9 – 12 suku kata
• Baris 1 sampiran baris 2 isi
• Berupa sindiran, ejekan, atau
cemoohan
1 Sebab pulut santan binasa
2 Dahulu Loyang sekarang besi
Dahulu sayang sekarang benci
Pantun yang berciri - ciri:
• Tiap baris 9 – 12 suku kata
• Baris 1 sebab baris 2 akibat
1 Kepada orang tua hendaklah hormat
Agar selamat dunia akhirat
2 Kurang pikir kurang siasat
Tentu dirimu kelak tersesat